Minggu, 18 Desember 2011

“DONGENG ASAL MULA SI MASAM BELIMBING WULUH”


Pada zaman dahulu di sebuah desa yang bernama Si Manis sangatlah terkenal dengan desa yang memiliki buah-buahan sangat manis. Desa tersebut merupakan salah satu desa yang sangat subur dan sangatlah makmur. Semua buah-buahan yang di tanam di daerah tersebut sangatlah manis. Jadi masyarakat sekitar menyebutnya dengan desa Si Manis. Desa Si Manis begitu indah dan makmur, setiap halaman rumah masayakat yang tinggaL di desa itu selalu ada tanaman buah-buahan dan menjadi tradisi masyarakat setempat bahwa setiap orang yang telah beranjak dewasa harus menanam salah satu jenis buah-buahan yang menurutnya manis karena itu merupakan symbol bahwa setiap orang yang telah menanam salah satu jenis tanaman buah-buahan dianggap telah melewati masa kedewasaan dan bisa hidup mandiri. Sebab itu lah yang membuat desa tersebut terdapat begitu banyak buah yang tumbuh.
Di tepi sungai desa manis terdapat sebuah gubuk yang sangat mungil namun begitu indah karena hampir di setiap pojok halaman gubuk tersebut tersusun rapi tanaman bunga-bunga yang sangat indah dan buah-buahan yang sangat menggiurkan begitu banyak dan manis. Sebuah gubuk tua itu dihuni oleh seorang gadis yang cantik jelita bersama neneknya. Wuluh adalah nama gadis tersebut yang usianya telah melewati masa kedewasaan. Sejak masa kedewasaanya telah tiba, sejak itu lah dia gemar menanam buah-buahan di halaman rumahnya. Maka dari itu halaman rumah miliknya terdapat banyak sekali tanaman buah yang sangat banyak. Setiap buah yang ia tanam selalu menghasilkan buah yang sangat manis dan menggiurkan karena begitu besar dan manis buahnya. Wuluh begitu menyayangi neneknya dan tanaman yang ia tanam, ia selalu merawat segala tanaman yang ia tanam. Buah-buahan yang ia tanam  diantaranya adalah rambutan, jambu, bengkoang, papaya, semangka, dan belimbing yang merupakan buah kesukaanya dan buah yang paling ia sayangi.
Wuluh begitu piawai merawat neneknya yang sedang sakit, sejak kedua orang tuanya meninggal ia tinggal bersama neneknya, jadi ia begitu menyayangi dan mengasihi nenek yang telah merawatnya. Pada suatu ketika Wuluh sedang menyirami tanaman kesayangannya di halaman depan rumahnya, tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh yang bunyinya berasal dari dalam rumah. Seketika itu pula Wuluh langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan ia mendapati nenek yang di sayanginya jatuh dan telah meninggal. Wuluh begitu sedih  karena satu-satunya orang yang paling ia sayangi telah tiada.
Kini Wuluh hanya tinggal sebatang kara, hanya tanaman yang ia tanamanlah yang selalu menemaninya dan yang menjadi kesayanganya. Wuluh begitu menyukai belimbing yang rasanya begitu manis dan segar, buah yang kecil dan berwarna hijau. Hampir setiap hari ia selalu menikmati buah tersebut. Ia menjual buah-buahan yang lain ke pasar namun tidak untuk buah belimbing tersebut.
Suatu ketika tanaman yang ia tanam diserang oleh hama yang menyebabkan tanaman miliknya membusuk dan lama-kelamaan mati. Namun hanya satu yang tidak diserang oleh hama tersebut yaitu belimbing, hal itu dikarenakan Wuluh selalu menjaga dan merawatnya agar tanaman itu tidak terserang oleh hama tersebut. Kini hanya belimbing lah tanaman buah yang ia miliki. Begitu sayangnya Wuluh terhadap buah tersebut membuat ia egan berbagi kepada siapapun. Tidak ada seorang pun yang diperkenankan mendekati pohon belimbing tersebut, karena ia takut ada yang mengambilnya. Hingga pada suatu hari ada seorang pengemis yaitu seorang nenek-nenek yang sudah pikun  singgah di rumahnya.
“Cu boleh kah nenek ini singga sebentar untuk istirahat di bawah pohon buah ini” tanya nenek tersebut kepada Wuluh
“Tidak ! ini milik ku tidak ada seorang pun yang boleh mendekati tanaman ku ini, termasuk kamu nenek tua jelek, bau, pikun” bentak Wuluh
“Hanya sebentar saja cu, nenek cuma mau istirahat” pinta nenek tersebut karena ia sangat kelelahan
“Itu cuma alasan kamu saja kan nenek peot, kamu sebenarnya menginginkan buah ini kan? Lantas kamu mau mencurinya kan? Kamu ingin mengambil buah yang sangat manis milik ku ini kan?” tuduh Wuluh
“Tidak cu, nenek hanya…..”
Belum sempat nenek melanjutkan bicaranya Wuluh mendorong nenek tersebut hingga terperosok ke lubang yang ada di dekat pohon tersebut.
Wuluh begitu geram dan marah melihat nenek tersebut yang tidak beranjak dari tanaman miliknya. Lantas Wuluh melemparnya dengan belimbing yang telah busuk.
“Hanya buah busuk lah yang pantas untuk mu nenek tua menjijikan” ucap Wuluh sambil tertawa sengit.
“Begitu jahat kah sifat mu nak, tak sebanding dengan wajah paras mu yang sangat cantik dan lembut, tidak kah kamu mnyadarinya nak?” ucap nenek sambil berusaha bangun
Wuluh semakin marah mendengar ucapan nenek tersebut.
“Pergi kamu nenek pikun” umpat Wuluh
“Ya Tuhan, sadarkanlah gadis ini bahwa perbuatannya sangat tidak baik dan berikanlah hukuman yang pantas untuknya agar ia menyadari semua perbuatanya yang tidak baik” ucap nenek tersebut
        Ketika nenek tersebut telah pergi jauh, Wuluh merasa senang karena nenek tersebut tidak bisa mencuri buah miliknya.
        Keesokan harinya Wuluh bangun dan langsung menuju tanaman belimbing tersebut, dengan senangnya ia memetik belimbing itu. Namun telah terjadi sesuatau yang aneh pada tanamannya. Saat ia makan sebuah belimbing ia merasakan buah yang dulu manis berubah menjadi masam. Wuluh langsung menangis sejadinya, karena buah kesayangannya yang dulu manis telah berubah masam. Ia sangat sedih dan ia ingat akan sesuatu hal yang di katakana oleh seorang nenek kemarin yang telah ia caci maki dan ia tuduh mencuri.
        Wuluh sangat menyesal atas perbuatannya, namun semua telah terjadi dan tidak akan kembali seperti awalnya. Kini buah yang dulunya manis telah berubah menjadi masam. Dan belimbing tersebut diberi nama belimbing wuluh yang merupakan tanaman si Wuluh seorang yang jahat. Hingga sekarang kita menyebutnya belimbing wuluh yang kita ketahui memiliki rasa yang masam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar